DENPASAR – Kasrem 163/WSA (Kolonel Inf Davit Beni Upeni) menghadiri Pelaksanaan Bulan Bahasa Bali VIII Tahun 2026 dibuka Gubernur Bali Wayan Koster, di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Minggu (1/2/2026).
Pembukaan hajatan tahunan yang berlangsung sebulan, 1-28 Februari 2026 itu dimeriahkan Tari Gabor klasik dan pagelaran seni berjudul “Japatuan ka Suargan” persembahan Sanggar Seni KOKAR Bali SMKN 3 Sukawati, Gianyar.
Gubernur Koster menyampaikan Bulan Bahasa Bali adalah salah satu program Pemerintah Bali untuk melindungi dan memuliakan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali. Bulan Bahasa Bali VIII ini mengusung tema “Atma Kerthi Udiana Purnaning Jiwa”. Tema ini selaras dengan visi pembangunan Bali, Sat Kerthi Loka Bali. Tema ini dimaknai sebagai altar pemuliaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali sebagai taman spiritual untuk membangun jiwa yang mahasempurna.
Bulan Bahasa Bali tidak sekadar menjadi agenda seremonial tahunan, melainkan ruang strategis untuk memperkuat jati diri kebudayaan Bali di tengah arus globalisasi. Bulan Bahasa Bali adalah wahana memuliakan bahasa ibu. Bahasa, aksara, dan sastra Bali bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga sumber nilai, etika, dan pengetahuan yang membangun kesadaran rohani dan kebudayaan masyarakat Bali.
Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali VIII Tahun 2026 dilaksanakan secara berjenjang, mulai dari tingkat desa, kelurahan, dan desa adat, kabupaten/kota, lembaga pendidikan dari PAUD hingga perguruan tinggi, hingga tingkat Provinsi Bali.
Dalam kesempatan itu Gubernur Koster bercerita tentang proses lahirnya UU No. 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang dalam penggodokannya ia telibat di dalamnya saat menjadi anggota DPR RI. Dari situ lahir konsep visi pembangunan Bali Nangun Sat Kerthi Loka Bali ketika Koster menjadi Gubernur Bali. Selanjutnya lahir regulasi yang memperkuat nilai-nilai kearifan lokal Bali, seperti Perda tentang penggunaan busana adat Bali, Pergub 80/2018 tentang perlindungan dan penggunaan aksara, bahasa dan sastra Bali, sebagai unsur menopang budaya Bali. Karena itu setiap bulan Februari diselenggarakan Bulan Bahasa Bali. “Kegiatan ini penting dilaksakan secara konsisten setiap tahun. Dan, kita harus berbangga hanya Bali yang konsisten menyenggarakan kegiatan ini,” ujarnya. Namun, dalam pelaksanaannya belum semua tertib menggunakan aksara Bali. Ini harus menjadi gerakan bersama agar semua menggunakan aksara Bali. (Red/penrem).
